Kirkwood Gaps
Jika kita membuat grafik yang menghitung jumlah asteroid (sumbu Y) berdasarkan jaraknya dari Matahari atau sumbu semimayor (sumbu X), kita tidak akan melihat grafik yang mulus. Sebaliknya, kita akan melihat grafik yang naik-turun tajam, mirip seperti barisan bukit dengan celah-celah kosong yang curam di antaranya. Celah kosong ini disebut Celah Kirkwood (Kirkwood Gaps). Celah Kirkwood (Kirkwood Gaps) terbentuk akibat resonansi orbit antara asteroid di sabuk utama dan planet Jupiter. Tarikan gravitasi Jupiter yang berulang secara teratur mengacaukan orbit asteroid pada jarak tertentu, mendorong atau melemparkan mereka keluar dari wilayah tersebut
Orbit Resonance:
- Tanpa Resonansi: Jupiter menarik asteroid dari arah yang berbeda-beda di setiap putaran. Tarikan ke kanan pada satu hari akan dibatalkan oleh tarikan ke kiri di hari lain. Efek bersihnya adalah nol.
- Dengan Resonansi: Asteroid dan Jupiter bertemu di posisi yang persis sama secara berulang-ulang. Tarikan gravitasi selalu terjadi di arah yang sama, sehingga kekuatannya terus bertambah.
Resonansi orbit dihitung berdasarkan Hukum Ketiga Kepler, yang menyatakan bahwa kuadrat periode orbit sebuah objek berbanding lurus dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari Matahari
\(T^2 \propto a^3\)
Tidak semua resonansi bersifat merusak atau mengusir objek. Jika posisi pertemuan kedua objek terjadi saat mereka saling berjauhan, resonansi justru berfungsi sebagai pelindung. Fenomena ini disebut sebagai mekanisme penguncian fase (phase-locking).Contoh terbaik di Tata Surya kita adalah resonansi antara planet Neptunus dan Pluto yang memiliki rasio 3:2 (Pluto mengitari Matahari 2 kali setiap Neptunus mengitari Matahari 3 kali).
Resonansi 3:1
- Jarak: 2,5 AU
- terdorong masuk ke arah dalam hingga memotong jalur orbit planet Mars dan Bumi. (Wilayah 3:1 ini merupakan sumber utama meteorit yang jatuh ke Bumi).
- sering kali dianggap sebagai celah yang paling bersih dan masif di area dalam sabuk asteroid.
Resonansi 2:1
- Jarak: 3,28 AU
- Batas dinamis yang memisahkan sabuk utama tengah dengan luar (Hecuba Gap).
- Sangat Lebar (Hanya dihuni sedikit objek stabil).
Resonansi 5:2
- Jarak: 2,82 AU
- Pemisah zona tengah dan luar sabuk asteroid.
- Celah sedang
Gaps di Kuipper Belt
Sama seperti Jupiter yang memahat Sabuk Asteroid dan menciptakan Celah Kirkwood, Neptunus bertindak sebagai penentu struktur dan pemahat utama Sabuk Kuiper. Gaya gravitasi Neptunus membagi populasi objek di Sabuk Kuiper menjadi wilayah yang padat dan wilayah yang kosong (celah/gangguan resonansi)
Resonansi 1:2 (Batas Tepi Luar)
Pada jarak sekitar 47,8 SA dari Matahari, terdapat zona resonansi 1:2 dengan Neptunus. Objek di sini mengorbit Matahari 1 kali untuk setiap 2 kali orbit Neptunus. Gaya gravitasi Neptunus di wilayah ini sangat instabil dan menciptakan penurunan drastis jumlah objek es, yang sering disebut oleh para astronom sebagai "Tebing Kuiper" (Kuiper Cliff).Resonansi Sekuler (Secular Resonance \(\nu _{8}\))
Selain resonansi gerak rata-rata, Sabuk Kuiper memiliki celah akibat resonansi sekuler (khususnya indeks \(\nu _{8}\) yang dikendalikan Neptunus). Di wilayah sekitar 40 hingga 42 SA, interaksi gravitasi jangka panjang membuat orbit objek es menjadi sangat tidak stabil. Eksentrisitas (kelonjongan) orbitnya dipaksa meningkat tajam hingga mereka terlempar keluar menjadi objek piringan tersebar (scattered disk objects).Wilayah Pengumpulan (Kebalikan dari Celah)
Sebaliknya, gravitasi Neptunus juga mengunci banyak objek di zona aman resonansi 2:3 (pada jarak ~39,4 SA). Wilayah padat ini dihuni oleh Pluto dan objek sejenisnya yang disebut kelompok Plutino. Resonansi ini justru melindungi mereka agar tidak pernah bertabrakan dengan Neptunus meskipun jalur orbit mereka saling bersilangan.
Ekor Komet
Banyak orang mengira ekor komet itu seperti rambut yang berkibar ke belakang karena komet bergerak maju kencang (seperti rambut kita saat naik motor). Ekor komet tidak peduli kometnya sedang bergerak maju mendekati Matahari atau bergerak mundur menjauhi Matahari tetapi ekornya selalu dan wajib menunjuk ke arah yang berlawanan dari Matahari.
- Solar Wind
Matahari terus-menerus menyemburkan aliran partikel bermuatan (terutama elektron dan proton) dengan kecepatan sangat tinggi, mencapai ratusan kilometer per detik.
- Saat komet mendekati Matahari, es di inti komet menyublim menjadi gas dan terionisasi (bermuatan listrik).
- Angin Matahari ini kemudian menghantam dan "meniup" gas-gas bermuatan ini dengan sangat kuat.
- Hasilnya adalah Ekor Ion (Gas) yang berbentuk sangat lurus dan tepat tegak lurus menjauhi Matahari.
- Radiation Pressure
Cahaya matahari terdiri dari partikel-partikel energi yang disebut foton. Meskipun tidak memiliki massa, foton yang menabrak debu-debu halus yang terlepas dari inti komet memiliki momentum yang bisa memberikan dorongan fisik.
- Dorongan dari partikel cahaya ini disebut Tekanan Radiasi.
- Debu-debu komet yang massanya lebih berat daripada gas akan terdorong oleh tekanan ini.
- Karena debu lebih berat, posisinya agak tertinggal oleh gerakan orbit komet itu sendiri, sehingga Ekor Debu ini bentuknya agak melengkung, tetapi arah umumnya tetap menjauhi Matahari.